Setiap orang tentu ingin hidupnya produktif, yang dimaksudkan disini adalah bisa memaksimalkan waktu untuk menghasilkan sesuatu yang berharga bagi dirinya dan orang lain, sehingga waktu yang diberikan selama satu hari 24 jam tidak terbuang sia-sia. Karena itu perlu adanya management waktu, menurut hemat penulis, ada beberapa langkah agar kita bisa menggunakan waktunya dengan semaksimal mungkin.
Langkah pertama adalah dengan membuat jadwal kegiatan harian pribadi. Mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali, dengan diisi kegiatan-kegiatan yang kiranya mampu untuk dilaksanakan dan dapat memberi manfaat bagi dirinya dan orang lain.
Kedua adalah disiplin terhadap jadwal yang telah dibuat sendiri. Meskipun tidak ada aturan pelanggaran, tidak ada sanksi, juga tidak ada penindak jika melanggar jadwal yang telah dibuat sendiri. Justru dengan mendisiplinkan diri, kita dituntut untuk jujur terhadap diri dari apa yang telah direncanakan dengan tindakan yang telah dilakukan.
Ketiga, memberi hukuman atau sanksi untuk dirinya sendiri. Tindakan ini sebagai langkah preventif agar kita lebih taat terhadap praturan yang dibuat sendiri. Diharapkan dengan adanya sanksi ini, kita tidak menyepelekan terhadap apa yang telah dijadwalkan.
Keempat, tentukan target, disini kita dituntut untuk membuat daftar pencapaian dengan satuan waktu, bisa harian, mingguan, bulanan hingga tahunan. Misalnya, jika kita ingin produktif menulis, maka target dalam satu hari kita harus sudah bisa menulis apa, apakah artikel, opini atau kolom, lalu apa target mingguannya, apakah bisa menulis cerpen, puisi dsb. Kemudian dilanjutkan dengan target bulanan dan tahunan disesuakan dengan kemampuan dan bakat kita. Jadi, inilah standar yang harus dicapai sebagai salah indikator tingkat keberhasilan dalam memanage waktu.
Kelima, evaluasi diri. Dari daftar terget itu kita bisa melihat tingkat pencapaian keberhasilannya. Apakah sudah sesuai dengan target, atau masih jauh dari yang direncanakan. Nantinya kita bisa menganaliasa kekurangan dan kelebihan dari apa yang telah kita lakukan berdasarkan standarisasi pencapaian yang telah kita buat. Langkah ini sangat penting sebagai bahan untuk evaluasi diri, juga untuk melihat kemampuan diri dalam merealisasikan rencana yang terjadwal.
Keenam, tindak lanjut. Setelah kita mengetahui tingkat keberhasilan, kekurangan dan kelebihan dari apa yang telah kita lakukan, tentunya kita ingin melanjutkan rencana ke depan dengan lebih matang lagi. Karena itu, pengalaman sebelumnya menjadi cerminan untuk memperbaiki langkah kedepan yang lebih baik. Semoga bisa.
*) Dimuat di harian Suara Merdeka edisi Minggu 8 Nopember 2009, rubrik YA! Swara Muda.
Langkah pertama adalah dengan membuat jadwal kegiatan harian pribadi. Mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali, dengan diisi kegiatan-kegiatan yang kiranya mampu untuk dilaksanakan dan dapat memberi manfaat bagi dirinya dan orang lain.
Kedua adalah disiplin terhadap jadwal yang telah dibuat sendiri. Meskipun tidak ada aturan pelanggaran, tidak ada sanksi, juga tidak ada penindak jika melanggar jadwal yang telah dibuat sendiri. Justru dengan mendisiplinkan diri, kita dituntut untuk jujur terhadap diri dari apa yang telah direncanakan dengan tindakan yang telah dilakukan.
Ketiga, memberi hukuman atau sanksi untuk dirinya sendiri. Tindakan ini sebagai langkah preventif agar kita lebih taat terhadap praturan yang dibuat sendiri. Diharapkan dengan adanya sanksi ini, kita tidak menyepelekan terhadap apa yang telah dijadwalkan.
Keempat, tentukan target, disini kita dituntut untuk membuat daftar pencapaian dengan satuan waktu, bisa harian, mingguan, bulanan hingga tahunan. Misalnya, jika kita ingin produktif menulis, maka target dalam satu hari kita harus sudah bisa menulis apa, apakah artikel, opini atau kolom, lalu apa target mingguannya, apakah bisa menulis cerpen, puisi dsb. Kemudian dilanjutkan dengan target bulanan dan tahunan disesuakan dengan kemampuan dan bakat kita. Jadi, inilah standar yang harus dicapai sebagai salah indikator tingkat keberhasilan dalam memanage waktu.
Kelima, evaluasi diri. Dari daftar terget itu kita bisa melihat tingkat pencapaian keberhasilannya. Apakah sudah sesuai dengan target, atau masih jauh dari yang direncanakan. Nantinya kita bisa menganaliasa kekurangan dan kelebihan dari apa yang telah kita lakukan berdasarkan standarisasi pencapaian yang telah kita buat. Langkah ini sangat penting sebagai bahan untuk evaluasi diri, juga untuk melihat kemampuan diri dalam merealisasikan rencana yang terjadwal.
Keenam, tindak lanjut. Setelah kita mengetahui tingkat keberhasilan, kekurangan dan kelebihan dari apa yang telah kita lakukan, tentunya kita ingin melanjutkan rencana ke depan dengan lebih matang lagi. Karena itu, pengalaman sebelumnya menjadi cerminan untuk memperbaiki langkah kedepan yang lebih baik. Semoga bisa.
*) Dimuat di harian Suara Merdeka edisi Minggu 8 Nopember 2009, rubrik YA! Swara Muda.
