Kamis, 31 Desember 2009

CAHAYA DI LORONG SUNYI


Pergilah semau-maumu

Duniamu, duniamu bukan duniaku

Kejarlah sesukamu

Kamu adalah kamu bukan aku

Usah lah hiraukan aku

Pedulikan saja kemauanmu

Jangan alasan kepadaku

Karena itu bukan tujuanku

Sebenarnya kamu tahu

Mengapa terus saja kau pertanyakan

Kalau aku sudah mengatakan

Mestinya kamu tinggal melakukan

Lupa, itu bukan alasan

Juga buka kebodohan

Hanya kamu ingin kepura-puraan

Padahal itu yang akan menyakitimu

Apa perlu aku tegaskan

Asalkan kamu tidak pura-pura

Andai saja kamu tidak lupa

Apabila kamu mau mengerti

Seberapa kamu bias

Sedapat apa kamu raih

Sesering kau syukuri

Sebisa mungkin kamu menikmati

Tak ada jalan sunyi

Semua harus dilalui

Kamu harus menerangi

Karena kamulah cahaya itu

Seperti lilin yang takkan padam sebelum sekelilingnya terang

Juga pahlawan yang takkan pulang kecuali dalam keadaan menang

Api itu panas karena dari gesekan bebatuan yang keras

Dari situlah cahaya selalu ada disetiap panasnya gesekkan

Terangilah di setiap kesunyian

Disitulah ada jalan yang mesti kau lanjutkan

Usah lah beralasan demi kemanuisaan

Lakukan saja, manusia akan memuliyakan

Anta syamsun, Anta badrun

Anta nurrun faoqo nuur.


Ngaliyan, 30 Desember 2009

Rabu, 30 Desember 2009

Tentang Kebencian


Usah kau usir aku
Usah kau lari
Jangan kau benci
Jangan kau caci-maki

Biar saja aku yang pergi
Lupakan saja aku ini
Tak perlu kau cari
Apalagi mendekati

Bersekutulah dengan teman-teman kamu
Jika itu membuatmu akan hidup
Kejarlah dunia impianmu
Jemputlah bahagiamu

Kenapa harus ada cinta
Jika yang muncul adalah kebencian
Mengapa aku membenci
Karena aku mencinta

Tak seharusnya aku menyayangi
Sebab takut aku akan membenci
Mestinya aku tak mencintai

Kalau saja belum terjadi
Aku ingin kembali
Dan ingin aku katakan
Kamu tidak hadir untukku

Bukan aku tak mau kamu mengerti
Hanya aku tak mau kamu tahu
Tentang cintaku juga kebencianku
Juga gundahku akan kamu

Rabu, 16 Desember 2009

Memaknai Rutinitas Hidup

Judul buku : Memaknai Jejak-Jejak Kehidupan.

Penulis : Komaruddin Hidayat

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 223+vii hal

Tahun terbit : 2009

ISBN : 978-979-22-4388-8




Seiring dengan perjalanan waktu dan bersamaan gerak nafas, saat itu pula manusia dituntut untuk melakukan perubahan. Dan ketika perubahan itu terjadi maka dibutuhkan adaptasi, tentunya dengan melihat situasi dan kondisi. Terlebih manusia yang kita kenal adalah mahluk sosial, tentunya pembawaan perubahan itu tidak hanya dari diri pribadi belaka, melainkan juga secara social kolektif.

Sebagai manusia biasa, konon terkenal lupa dan berbuat salah. Bahkan kesalahan lama-kelamaan menjadi biasa, akhirnya kebiasaan berbuat salah menjadi kewajaran. Karena lupa, perbuatan dosa dianggap tidak berdosa, mengingat ada ampunan dari yang kuasa.

Setiap hari tuhan memberikan kesempatan selama 24 jam kepada mahluk-Nya untuk mengisi hidunpnya sebaik-baiknya. Tentunya sudah banyak aktifitas yang telah dilakukan, mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali. Dari banyak kegiatan itu tidak sedikit yang jika kita ingat-ingat kembali ternyata membuat jantung kita terpingkal-pingkal, ada juga yang membuat jantung kita berdebar-debar.

Berangkat dari secarik gagasan dalam tiap kegiatan itu, komaruddin hidayat mencatatkan kebiasaan remeh kemanuisaan itu diubah menjadi tulisan yang penuh inspiratif. Mengingat tindakan manusia terkadang lupa-lupa ingat, atau ingat-ingat lupa. Jika ditimbang antara lupa dan ingat, lebih baik banyak lupa, karena tulisan mencoba mengabadikan sketsa kehidupan itu.

Karena itu meski hidup terasa biasa-biasa saja, bahkan kadang tidak mempunyai arit, tetapi dimata seorang akademisi sekecil apa pun kehidupan, tetap bermakna selama bisa menggali nilai kritik sosialnya.

Buku karang komarudin hidayat ini, hanyalah catatan kecil yang merujuk pada fenomena-fenomena sehari-hari kehidupan masyarakat Indonesia. Mulai dari hal-hal yang terkecil sampai diskusi-diskusi di seminar, banyak ia catatkan. Di tangannya coretan itu menjadi sebuah tulisan inspiratif yang layak kita renungi untuk cerminan melangkahi kehidupan selanjutnya.

Rektor UIN Syarif Hidayatullah ini mengingatkan masyarakat Indonesia sebagai kaum pelupa agar senantiasa mengevaluasi diri. Tujuannya tak lain supaya hidup ini menjadi lebih bermakna. Karena semua yang kita maknai belum tentu berarti, dan semua yang berarti bisa jadi kurang bermakna. Mengingat manusia selain dibekali otak, juga ada hati.

Setidaknya dari catatan-catatan kecilnya, mengajak kita semua untuk merenungi perbuatan-perbuatan yang telah dilakukan dengan berbagi kebiasaan, dari keunikan tindakan dan ucapan, kemudian dijadikan bahan evalusi diri. Waktu yang sudah disediakan ini tak lain adalah sebuah pembelajaran evaluasi untuk terus melakukan perbaikam-perbaikan kualitas hidup manusia.

Sekecil apapun peran kita terhadap masyarakat akan tetap berarti selama kita memberikannya dengan ketulusan untuk kehidupan yang lebih bijak dalam kebersamaan.

Cermin Masyarakat

Ternyata wajah masyarakat Indonesia jika digambarkan dalam tulisan menjadi sebuah kisah unik, mengelitik, dan serat dengan nilai-nilai keagamaan bercampur sedikit dengan bau-bau busuk. Lihat saja, bagaimana komarudin mengkisahkan sang pejabat berikut dengan rumah-rumahnya. Dalam buku ini, dituliskan setiap pejabat bisa dipastikan mempunyai rumah lebih dari satu, mulai dari rumah pribadi, rumah dinas dan rumah tahanan.

Para pejabat yang konon bermartabat dan terhormat, kenyataannya mereka yang duduk dikursi pemerintahan masih menyimpan nafsu hewaniyah ini yang disebut dalam bahasa komarudin sebagai titik terendah martabat manusia, bahkan derajat socialnya sama dengan hewan(animal sosial). Dalam keadaan ini manusia-manusia itu hanyalah mengejar kenikmatan sesaat, sulit diajak untuk berpikir jangka panjang dalam menciptakan generasi yang sehat dan berkualitas.

Dampaknya kualitas hidup masyarakat Indonesia kian tergadaikan sejalan dengan lunturnya nilai-nilai moral dan agama. Rasa toleransi yang sudah lama dibangun kadang tak dapat membawa kesepahaman, masyaraat sudah terkotak-kotak oleh kepentingan dan waktu.

Hanya keterbukaan hati yang barangkali bisa menawarkan kesejukan baru demi tercipta masyarakat yang harmonis dan toleran. Begitu juga dengan nilai-nilai agama yang sudah tertanam, mestinya bisa mewarnai disegala lini kehidupan.

Buku ini sangat dianjurkan bagi calon eksekutif, juga para pemangku jabatan negara. Mengingat kritikan halus dalam goresan tangan sang komar, memberi inspirasi dan mengajak kepada segenap elemen bangsa agar senantiasa berjalan sesuai dengan relnya. Kisah-kisah yang disuguhkan komar memang memberi cahaya baru yang halus dan menyetuh.

Rangkaian kalimat yang disusun sangat menggoda untuk dibaca bagi semua golongan, entah akademisi, politisi, birokratis bahkan sampai priyayi pun layak membaca buku ini. Sebagai bekal untuk mencapai hidup yang lebih bermakna.

Selanjutnya cita-cita bangsa untuk mewujudkan kehidupan yang berkualitas bukan sekadar basa-basi politis, melainkan gerakan bersama guna menjunjung nilai luhur dan martabat bangsa, kelak harga diri Negara kian diperhitungkan dikancah dunia, semua itu berawal dari tata hidup yang berkualitas.



*) di muat di tabloid Amanat edisi 113.


Sumber Daya Alam Brebes Selatan

Bumiayu merupakan salah satu kecamatan di kabupaten Brebes bagian selatan, banyak potensi yang belum dikembangakan didaerah itu, akan tetapi karena lokasi yang jauh dari ibu kota kabupaten menjadikan daerah ini kurang diperhatikan. Mestinya pemerintah berkewajiban dalam pemerataan pembanguanan di seluruh pelosok daerah tanpa terkecuali.
Dalam tata letak pembangunan kota, Bumiayu masuk dalam Sub Wilayah Pembangunan (SWP) III yang meliputi, Bumiayu, Tonjong, Paguyangan, Sirampog, Batarkawung dan Salem. SWP III ini di desain sebagai daerah pengambangan di sektor pertanian. Lihat saja di sepanjang jalan Bumiayu-Tonjong terbentang hutan pinus dan jati, dan di sekelilingnya kita bisa melihat tanaman padi yang membentang di sepanjang jalan tersebut, juga tanaman-tanaman lain yang dihasilkan dari SWP III, misalnya kubis, singong, wortel dan tomat.
Mengingat letak geografis Brebes bagian selatan(Bumiayu dan sekitarnya) yang berada di lereng gunung Slamet, selain tanahnya subur diam-diam daerah ini potensi Sumber Daya Alam(SDA) yang cukup melimpah. SDA inilah yang selama ini belum tergarap maksimal, padahal jika pemerintah mau serius SDA ini, Pemerintah Kabupaten(Pemkab) Brebes ini bisa mendapatkan keutungan yang tidak sedikit, bahkan bisa digunakan untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Potensi
Begitu juga masyarakat sekitar potensi alam ini bermanfaat meningkatkan kesejahteraan, setidaknya SDA itu memberi nilai tambah untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
Pada tahun 2005 Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Brebes bekerjasama dengan Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat Institut Teknologi Bandung(LPPM-ITB) pernah mengadakan penelitian terkait kondisi SDA yang terkandung di daerah SWP III ini, dan hasilnya di daerah ini terkandung banyak potensi SDA, mulai dari batu bara, batu apung, tanah liat, dan basir dan batu(Sirtu), bahkan minyak bumi sempat terdekteksi meskipun hasilnya dibawah standar.
SDA itu sangat bermanfaat terutama sebagai campuran bahan bangunan. Misalnya batu apung yang terdapat di Desa Mendala dan Desa Cilibur, Kecamatan Sirampog, selama ini masyarakat sekitar memanfaatkan batu Apung ini sebagai bahan campuran pengganti pasir untuk bangunan rumah. Kegunaan lain, batu ini dapat dipergunakan untuk campuran bahan baku semen, bahan beton ringan, bata tahan api, industri keramik, dan bahan pencuci kain.
Potensi lain terdapat di sepanjang sungai pemali yang melintasi kecamatan Tonjong dan Bantarkawung terdapat pasir dan batu cukup banyak, yang bisa digunakan sebagai bahan bangunan. Selain itu, terdapat batu belah yang bisa ditemukan di lereng gunung menyebar disekitar Kecamatan Salem, Bantarkawung, Bumiayu, Tonjong, Sirampog, dan Paguyangan. Pada umumnya batu belah itu dimanfaatkan untuk pembuatan batu split, sebagai bahan cor, bahan fondasi rumah atau jalan
Untuk mencipatakan pembangunan daerah yang merata, kiranya pemerintah mesti memahami keadaan lingkungan dan potensi-potensi yang terkandung. Banyak daerah yang mengeklporasi SDA tanpa melihat dampaknya, alhasil lingkungan itu menjadi tidak produktif bahkan menjadi daerah yang gersang dan tandus. Maka inilah yang perlu pikirkan pemerintah, setidaknya harus ada langkah-langkah pencegahan sebelum terjadi kerusakan lingkungan. Jangan sampai pasca pendayagunaan SDA ini justru lingkungan menjadi rusak, nantinya akan menjadi bencana yang mengancam warga sekitarnya.
Karena itu yang perlu diberdayakan tidak hanya SDA-nya, tapi juga warga SDM masyarakat di sekitarnya. Setidaknya warga diajak berpikir bersama untuk mengelola SDA yang ada di dekatnya, sehingga masyarakat merasa memliki rasa tanggungjawab untuk mengembangkannya. Dan masyaraat secara langsung akan merasaan keuntungan yang di dapat dari SDA ini.
Disini ada beberapa catatan terkait langkah-langkah untuk pemberdayaan SDA dengan memperdulikan lingkungan. Pertama: pemerintah bersama masyarakat menjaga kelesatarian lingkungan, pendayagunaan SDA sebisa mungkin untuk meminimalisir kerusakan lingkungan.
Menjaga Lingkungan
Kedua: pendidikan tentang lingkungan kepada masyarakat, ini penting mengingat untuk melestarikan lingkungan perlu pengetahuan cara-cara untuk menjaga lingkungan yang baik dan benar. Berikut dengan upaya pembelejaran pencegahan berncana alam yang diakibatkan eksplorasi yang berlebihan.
Ketiga: pemberdayaan nilai-nilai kewirausahaan masyarakat hasil dari pengelolaan SDA, hal ini terkait pemasaran hasil-hasil yang diperoleh dari SDA. Diharapkan dengan pemberdayaan ini masyarakat bisa mandiri memasarkan hasil pengelolaannya dan bisa memberikan nilai tambah bagi ekonomi keluarga.
Kelima: regulasi pemerintah, pada kondisi ini jauh lebih penting dimana posisi pemerintah yang mempuynai kekuatan penuh untuk megatur atau menerbitkan peraturan tentang pengelolaan SDA dan hasilnya. Tujuannya untuk mengantisipasi ekspolarasi sda yang tidak terkontrol, dan cenderung merusak lingkungan.
Harapan besar dengan pengelolaan SDA ini bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat disekitarnya, juga turut menambah Pendapatan Asli Daerah(PAD). Tentunya dengan memperhatikan dan menjaga lingkungan di sekitar lokasi penambangan.

**) Di muat di harian Suara Merdeka edisi 3 Juli 2009

Rabu, 18 November 2009

MARI HIDUP PRODUKTIF

Setiap orang tentu ingin hidupnya produktif, yang dimaksudkan disini adalah bisa memaksimalkan waktu untuk menghasilkan sesuatu yang berharga bagi dirinya dan orang lain, sehingga waktu yang diberikan selama satu hari 24 jam tidak terbuang sia-sia. Karena itu perlu adanya management waktu, menurut hemat penulis, ada beberapa langkah agar kita bisa menggunakan waktunya dengan semaksimal mungkin.
Langkah pertama adalah dengan membuat jadwal kegiatan harian pribadi. Mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali, dengan diisi kegiatan-kegiatan yang kiranya mampu untuk dilaksanakan dan dapat memberi manfaat bagi dirinya dan orang lain.
Kedua adalah disiplin terhadap jadwal yang telah dibuat sendiri. Meskipun tidak ada aturan pelanggaran, tidak ada sanksi, juga tidak ada penindak jika melanggar jadwal yang telah dibuat sendiri. Justru dengan mendisiplinkan diri, kita dituntut untuk jujur terhadap diri dari apa yang telah direncanakan dengan tindakan yang telah dilakukan.
Ketiga, memberi hukuman atau sanksi untuk dirinya sendiri. Tindakan ini sebagai langkah preventif agar kita lebih taat terhadap praturan yang dibuat sendiri. Diharapkan dengan adanya sanksi ini, kita tidak menyepelekan terhadap apa yang telah dijadwalkan.
Keempat, tentukan target, disini kita dituntut untuk membuat daftar pencapaian dengan satuan waktu, bisa harian, mingguan, bulanan hingga tahunan. Misalnya, jika kita ingin produktif menulis, maka target dalam satu hari kita harus sudah bisa menulis apa, apakah artikel, opini atau kolom, lalu apa target mingguannya, apakah bisa menulis cerpen, puisi dsb. Kemudian dilanjutkan dengan target bulanan dan tahunan disesuakan dengan kemampuan dan bakat kita. Jadi, inilah standar yang harus dicapai sebagai salah indikator tingkat keberhasilan dalam memanage waktu.
Kelima, evaluasi diri. Dari daftar terget itu kita bisa melihat tingkat pencapaian keberhasilannya. Apakah sudah sesuai dengan target, atau masih jauh dari yang direncanakan. Nantinya kita bisa menganaliasa kekurangan dan kelebihan dari apa yang telah kita lakukan berdasarkan standarisasi pencapaian yang telah kita buat. Langkah ini sangat penting sebagai bahan untuk evaluasi diri, juga untuk melihat kemampuan diri dalam merealisasikan rencana yang terjadwal.
Keenam, tindak lanjut. Setelah kita mengetahui tingkat keberhasilan, kekurangan dan kelebihan dari apa yang telah kita lakukan, tentunya kita ingin melanjutkan rencana ke depan dengan lebih matang lagi. Karena itu, pengalaman sebelumnya menjadi cerminan untuk memperbaiki langkah kedepan yang lebih baik. Semoga bisa.

*) Dimuat di harian Suara Merdeka edisi Minggu 8 Nopember 2009, rubrik YA! Swara Muda.


Selasa, 17 November 2009

Meneguhkan Komitmen Menulis


Menulis bukanlah perkerjaan berat, bukan pula perkara mudah. Tapi banyak calon penulis yang gugur di tengah jalan, terutama bagi penulis pemula, biasanya untuk memulai menulis saja membutuhkan perjuangan yang luar biasa.
Perlu diketahui menulis tidak hanya membutuhkan daya nalar yang kuat tapi juga mentalitas dan komitmen. Dalam proses menulis tentu memakan waktu yang tidak sedikit. Dan rutinitas itu yang mempengaruhi kualitas tulisan.
Sayangnya mahasiswa meremehkan rutinitas menulis ini, dengan mudah mereka menunda proses penulisan yaitu dengan berbagai alasan. Disadari atau tidak sikap ini akan memicu timbulnya rasa malas. Bisa saja penulis itu mempunyai gagasan banyak untuk menulis, tetapi pada tataran pelaksanaanya dengan mudah untuk ditunda, hingga akhirnya gagasan itu menumpuk di kepala, dan sampai pada waktunya tulisan itu belum terwujud juga.
Berangkat dari pengalaman teman-teman di bangku kuliah ternyata tidak sedikit mahasiswa yang berkeinginan untuk menulis, dengan tema ini dan itu. Tapi itu masih sebatas keinginan, sementara eksekusi ide itu belum jua terlaksana. Masalhanya sepele, menunda-nunda.
Karena itu sebisa mungkin penulis menghindari sikap menunda-nunda. Sebelum nantnya timbul kemalasan. Diakui memang, untuk merubah sikap ini tidaklah mudah, tetapi juga tidaklah terlalu sulit selama ada komitmen yang kuat untuk menulis. Ini penting karena komitmen awal akan menentukan keberhasilan sauatu tindakan. Jangan harap pekerjaan itu akan selesai, jika tidak ada komitmen di dalamnya.
Lakukan Sekarang
Seperti yang kita ketahui, banyak calon penulis terjebak pada tataran ide-ide, sementara prakteknya masih nihil karena berbagai faktor. Disini berlaku konsep 3M yang dipopulerkan oleh AA. Gym, mulailah dari yang kecil, mulailah dari diri kita sendiri, mulailah dari sekarang. Konsep itu manjadi penting mengingat sudah banyak teori dan gagasan dibidang tulis-menulis, tetapi tidak dibarengi dengan sikap dari diri pribadi yang komitmen untuk menulis.
Untuk melaksanakannya dibutuhkan komitmen yang kuat dan sejak dini dibangun untuk menulis. Kemudian pupuklah komitment itu dengan memotivasi sesuai dengan diri pribadi penulis. Dan nantinya kita akan menemukan motivasi yang pas bagi dirinya untuk memulai menulis.
Dan perlu diketahui pula, ide-ide menulis akan terus bermunculan sejalan dengan goresan tinta diatas kertas. Karena selama menulis selama itu pula otak kita diperas untuk diapresiaikan dalam bentuk tulisan. Yang nantinya tidak hanya kita saja yang menikmati gagasan pikiran dari otak penulisnya. Karena itu, selagi ada gagasan menulislah kapan saja dan dimana saja.

Konsep Hukum Progresif Satjipto Rahardjo


Judul buku : Hukum Prograsif, Sebuah Sintesa Hukum Indonesia
Pengarang : Prof. Dr. Satjipto Rahardjo, SH
Penerbit : Genta Publishing, Yogyakarta
Tahun terbit : Juli 2009
Jumlah halaman : xiii+156
ISBN :978-979-19598-4-1

Sebagai Negara hukum tentunya banyak peraturan perundang-undangan yang telah dibuat dalam rangka menciptakan ketertiban dan keadilan bagi masyarakat. Kemudian untuk menegakkan keadilan didirikanlah institusi-institusi keadilan. Diharapkan dengan diterbitkannya undang-undang dan penegak keadilan hak-hak masyarakat dapat terpenuhi, sehingga kesejahteraan sebagai tujuan umum masarakat bisa dirasakan oleh semua kalangan.
Akan tetapi, dari undang-undang saja terkadang justru memunculkan konflik. Begitu juga dengan lembaga penegak keadilan, yang mestinya bisa menjadi rujukan mencari keadilan, malah terperangkap pada alur birokrasi yang mencederai rasa adil. Karena pada kenyataan, ketika keadilan itu harus melalui institusi pengadilan, itu artinya hanya orang-orang yang mempunyai kekuasaan institusi yang bisa memenangkan keadilan.
Inilah kemudian menuntut adanya reformasi dibidang hukum, sayangnya hingga kini reformasi hukum dianggap belum sepenuhnya berhasil, hal itu disebabkan masih maraknya korupsi, komersialisasi dan commodification.
Berangkat dari sini Satjipto Rahardjo dalam bukunya yang diberi judul "Hukum Progresif, Sebuah Sintesa Hukum," menawarkan gagasannya tentang hukum progresif. Dimatanya hukum progresif berperan, tidak untuk menerima hukum sebagai institusi yang mutlak dan final, melainkan sangat ditentukan oleh kemampuan untuk mengabdi kepada manusia.
Asumsi awalanya, hukum progresif adalah hukum untuk manusia. Karenanya paradigma yang dibangun dalam hukum progresif adalah mendahulukan kepentingan manusia yang lebih besar dari pada menafsirkan hukum dari sudut logika dan peraturan. Sehingga hukum mengikuti kepentingan manusia, bukan manusia mengikuti kepetingan hukum.
Disini hukum tidak dilihat dari kacamata hukum itu sendiri, melainkan dilihat dari nilai dan tujuan social yang ingin dicapainya serta akibat-akibat yang timbul dari kekejaman hukum. Untuk itu diperlukan keberanian dalam melakukan interpretasi hukum secara progresif dari pada tunduk dan membiarkan terbelenggu oleh peraturan hukum. Selain itu, hukum progresif sangat bertumpu pada sumber daya manusia(SDM) dalam menginterpretasikan hokum itu sendiri.
Satjipto juga menolak pendapat bahwa ketertiban(order) hanya bekerja melalui institusi-institusi kenegaraan yang tersistem. Seperti:lembaga-lembaga pengadilan, lembaga Arbitrase, kepolisian. Nah, hadirnya hukum progresif disini sebagai koreksi atas kelemahan system yang sarat dengan birokrasi.
Konsep negara hukum menurut Satjipto adalah sebuah bingkai(framework) besar yang memuat prinsip-prinsip yang menuntun cara bangsa untuk menata serta mneyalurkan porses-proses dalam masyarakat, sehingga tercapai tujuan sosial, politik dan lain-lain dalam negara tersebut.
Hukum Progresif
Progresivitas bertolak dari pandangan kemanusiaan, bahwa manusia pada dasarnya adalah baik, memiliki sifat-sifat kasih sayang serta kepedulian terhadap sesama. Inilah modal utama kehidupan berhukum masyarakat Indonesia yang lebih baik. Dengan demikian hukum menjadi alat untuk menjabarkan dasar kemanusiaan tersebut, hukum bukan raja, melainkan alat saja yang berfungsi memberi rahmat kepada dunia dan manusia.
Progresivisme juga tidak ingin menjadikan hukum sebagai teknologi yang tidak bernurani, melainkan sebagai suatu institusi yang bermoral, dan tujuan bersanya adalah kesejahteraan dan kabahagiaan manusia. Sehingga hukum selalu berada pada status "law in making." Maka disinilah hukum progresif selalu melakukan koreksi dan berusaha untuk memperbaiki diri, meng-up date setra menyempurnakan, tidak ada kata stagnan dan status quo dalam hukum. Hukum bukanlah karya mesin, melainkan karya manusia yang penuh dengan nuansa pilihan dan modalitas. seperti kepedualian, empati, dan keberanian.
Dengan demikian hukum progresif selalu peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat, baik local, nasional maupun global. Dengan perubahan-perubahan itulah hukum progresif terpanggil untuk melindungi rakyat menuju pada ideal hukum.
Nantinya hukum progresif akan manjdi kritis dan fungsional, karenanya ia akan senantiasa melihat kekurang-kekurangan untuk kemudian disempurnakan, yang berdasarkan parameter manusia, masyarakat dan dinamika masyarakat.
Dan kemudian hukum progresif akan selalu tumbuh, berubah, dan berkembang. Dalam artian ia akan tumbuh, menuju kebaruan meninggalkan yang lama. Berubahm agar hukum tidak sekadar menjadi monument sejarah yang gagal mengatur dengan efektif. Dan akan berkembang sejalan dengan dinamika kehidupan masyarakat.
Secara bahasa, buku terbitan genta publishing ini mudah dipahami oleh semua kalangan. Meskipun banyak istilah hukum disetiap pembahasannya. Akan tetapi, sangat disayangkan ada beberapa paragraf yang diulang-ulang, sehingga terkesan kurang efisien.
Buku ini sangat dianjurkan bagi para penegak keadilan, penggali hukum, serta para akademisi yang bergelut dibidang hukum, mengingat catatan-catatan Satjipto Rahardjo ini kental sekali dengan kerangka ideal sebuah hukum yang mensejahterakan manusia. Faktor dan kontribusi manusia lebih menentukan dari pada peraturan yang ada.

Kamis, 22 Oktober 2009

Dengarkan Kebencianku


Hidup bukan untuk membenci
Tapi perjalanan ini diselimuti benci
Pada suata yang saya benci
Sekali benci, benci

Siapapun pasti punya rasa benci
Hati seakan menutup
Mata tak mau menatap
Tangan tak mau menjabat

Saya tak mau membenci
Tapi saya menjadi pembenci
Pada suatu yang saya benci
Juga pada orang-orang yang membenci saya

Kamu benci, saya benci
Saya benci, kau juga benci
Kapan mulai, kapan pergi

Wahai benci...
Saya harap cepet segera pergi
Dan akan berganti melalui lebaran suci
Dari hati nurani..

Agar saya lebih berani
Menjadi manusia sejati
Bukan sebagai pembenci
Ajarkan aku untuk bisa mencintai…

Bagimu Orang Gila

Gila tidak dosa
Tidak gila tidak dosa
Orang gila jadi biasa
Biasa gila tak mengapa

Banyak orang gila
Banyak orang tak gila
Mereka gila, tak gila
Mereka gila, tak mengaku gila
Mereka tak gila, tapi gila
Mereka tak gila, tapi mengaku gila

Masa gila
Pagi gila
Sore gila
Siang gila
Malam gila

Manusia gila
Gila harta
Gila wanita
Gila tahta

Zaman gila
Tak ada putih
Tak ada hitam
Tak ada sahabat
Tak ada kerabat
Tak ada pejabat
Tak ada rakyat

Ilmu gila
Lupa
Pura-pura lupa
Terlanjur lupa
Sengaja lupa
Memang lupa

Guna gila
Kadang jadi bencana
Kadang juga juara
Tak berdosa
Tak bahagia
Tak kenal syurga dan neraka
Tak punya rasa juga asa

Tuhan
Bimbinglah hamba
Agar tidak lupa
Jauhkanlah dari gila
Juga dari orang-orang gila

Maafkan
Atas keluputan hamba
Kegilaan hamba
Sungguh hamba tak kuasa
Tatkala takdir telah tersurat

Hamba manusia biasa
Pasti ada dusta juga dosa
Tapi hamba tak mau gila
Hamba hanya ingin menjadi hamba


Masjid Baitul Muttaqien
Wahyu Asri, 1 Oktober 2009

Jumat, 19 Juni 2009

Guru, Mengabdikan Karir Demi Tanah Air


Seiring dengan perkembangan zaman, dan dinamika kehidupan. Segalanya harus bisa beradaptasi dengan gejolak dunia. Begitu juga dengan dunia pendidikan. Dalam hal ini guru sebagai tonggak maju dan mundurnya dunia pendidikan. Ditengah globalisasi guru dituntut untuk melakukan inovasi metode pembelajaran. Tidak salah jika pemerintah membuat regulasi tentang guru dan dosen, tak lain bertujuan untuk meningkatkan profesionalitas tenaga pendidik.
Pemerintah pun tidak segan-segan memberikan fasilitas yang lebih untuk guru. Mulai dari kesejahteraan keluarga hingga beasiswa untuk melanjutkan study ke jenjang yang lebih tinggi. Semua itu demi mencerdaskan anak bangsa. Itulah tugas mulia guru.
Kini guru adalah sebuah profesi dengan label Pegawai Negeri Sipil(PNS), nah ini yang perlu dikoreksi, pasalnya jika guru dianggap profesi maka yang terjadi kemudian adalah perebutan karir posisi. Padahal mestinya adalah guru itu sebagai pengabdian dan rasa tanggungjawab dalam mendidik anak bangsa.
Untuk itu komitmen guru untuk kembali mengabdi perlu digalakkan, tetap diutamakan sampai menemukan titik ideal yang diharapkan oleh peserta didik dengan menyesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan sekarang ini.
Mengingat kinerja mulia guru yang mampu menciptakan intelektual muda, tentunya sebuah prestasi yang luar biasa. Dan itu menjadi kebanggan tersendiri di hati dosen yang tidak bisa diapresiasikan dengan yang lain. Semua itu berawal dari profesionalitas seorang guru, alhasil untuk mencipatakan peserta didik yang berkualitas bukan sekedar mimpi.
Dan kinerja guru akan lebih bermakna lagi jika dibarengi dengan nawaitu ikhlas untuk mengabdi. Langkah tersebut bias menjadi spirit dalam mencerdaskan anak bangsa. Ditengah himpitan kehidupan yang komplek ditambah lagi kebutuhan yang mendesak, dinamisasi kehidupan yang semakin komplek.
Lebih-lebih indicator suatu bangsa ditentukan oleh sumber daya manusia, dan sdm tolak ukurnya dari keadaan pednidikan masyarakatnya. Makin baik penddikan makin tinggi pula Sumber Daya Manusia(SDM) masyarakatnya. Nah kuncinya terletak pada kinerja guru. Sedangkan guru dapat dilihat kinerjanya melalui rasa tanggungjawab, loyalitas dalam mengemban tugas keguruannya di dalam kelas dan amanah kependidikan di luar kelas.
Selanjutnya control dan evaluasi perlu dilakukan, hal itu untuk mengetahui kelemahan dan kekurangan. Serta kritikan dari berbagai pihak layak diperhatikan demi terciptanya dunia pendidikan yang lebih baik.
Oleh karena itu selayakanya, guru harus mempertimbangkan antara pengabdian dan karir. Intinya profesionalisme dalam mengajar harus diutamakan diatas segalanya. Itulah peran guru tidak bisa digantikan dengan media apapun, kalau pun bisa, itu hanya membantu.

Senin, 15 Juni 2009

KURANGI KONSUMSI ROKOK, SELAMATKAN DUNIA



Perubahan iklim yang terjadi akhir-akhir ini perlu kita cermati, mengingat cuaca yang memang kurang berasahabat menjadikan kita bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi dengan alam ini.
Para ahli mengindikasikan perubahan iklim itu merupakan salah satu dari dampak pemanasan global(global warming), walaupun masih banyak lagi dampak pemanasan globak lainya yang masih mengancam kehidupan dunia. Perubahan itu tidak mungkin terjadi dengan sendirinya tanpa sebab yang jelas, yang pasti manusia berkontribusi banyak terhadap pemanasan global ini.
Sebelum kita bertindak lebih jauh dengan dengan mencari siap yang harus bertanggungjawab dengan mencari “kambing hitam” dan apa yang mestinya kita lakukakan, alangkah baiknya kalau kita introsepeksi diri, merenungkan bagaiman life style kita, adakah yang perlu untuk dirubah?.
Lihat saja gaya hidup orang-orang disekitar kita, banyak orang yang hidupnya tregantung dengan rokok, mulai dari anak-anak, remaja dan orang tuabahkan perempuan sekliapun sekarang sudah banyak yang merokok.
Disadari atau tidak mereka berkontribusi meningkatkan temperature, Data yang dihimpun dari IPCC(Intergovernmental Panel on Climate Change) menunjukan peningkatan temperature rata-rata ± 0.18 °C dalam seratus tahun terakhir. Nah, dari banyaknya penyebab pemanasan global salah satunya adalah penumpukan gas karbondioksida(CO2) di atmosfir.
Dari sekian karbondioksida salah satu produsenya adalah asap rokok, jika seandainya dalam suatu daerah ada 1000 perokok, sedangkan satu orang itu menghabiskan satu bungkus, maka berapa persen gas co2 yang akan menumpuk di atmosfir. Alhasil panas matahari yang masuk ke bumi tidak bisa keluar lagi, karena sinar matahari yang mestinya keluar dihalangi dan dipantulkan lagi ke bumi oleh kumpulan gas co2.
Tidak hanya itu saja banyaknya hutan yang gundul juga turut melepaskan secar langsung gas co2 ke atmosfir, padahal pepohonan, terutama yang muda dan cepat pertumbuhannya, menyerap karbondioksida yang sangat banyak, memecahnya melalui fotosintesis nantinya akan menghasilkan oksigen, dan menyimpan karbon dalam kayunya.
Nah, saya kira penting untuk diingat wahai para pecandu rokok, agar lebih memikirkan orang banyak dari pada kenikmatan pirbadinya. Sikap anda hari ini kana menentukan nasib orang banyak dimasa depan untuk kehidupan yang lebih baik.

Munaseh
Mahasiswa Fakultas Syari’ah Institut Agama Islam Negeri(IAIN) Waliosngo Semarang.