Kamis, 31 Desember 2009

CAHAYA DI LORONG SUNYI


Pergilah semau-maumu

Duniamu, duniamu bukan duniaku

Kejarlah sesukamu

Kamu adalah kamu bukan aku

Usah lah hiraukan aku

Pedulikan saja kemauanmu

Jangan alasan kepadaku

Karena itu bukan tujuanku

Sebenarnya kamu tahu

Mengapa terus saja kau pertanyakan

Kalau aku sudah mengatakan

Mestinya kamu tinggal melakukan

Lupa, itu bukan alasan

Juga buka kebodohan

Hanya kamu ingin kepura-puraan

Padahal itu yang akan menyakitimu

Apa perlu aku tegaskan

Asalkan kamu tidak pura-pura

Andai saja kamu tidak lupa

Apabila kamu mau mengerti

Seberapa kamu bias

Sedapat apa kamu raih

Sesering kau syukuri

Sebisa mungkin kamu menikmati

Tak ada jalan sunyi

Semua harus dilalui

Kamu harus menerangi

Karena kamulah cahaya itu

Seperti lilin yang takkan padam sebelum sekelilingnya terang

Juga pahlawan yang takkan pulang kecuali dalam keadaan menang

Api itu panas karena dari gesekan bebatuan yang keras

Dari situlah cahaya selalu ada disetiap panasnya gesekkan

Terangilah di setiap kesunyian

Disitulah ada jalan yang mesti kau lanjutkan

Usah lah beralasan demi kemanuisaan

Lakukan saja, manusia akan memuliyakan

Anta syamsun, Anta badrun

Anta nurrun faoqo nuur.


Ngaliyan, 30 Desember 2009

Rabu, 30 Desember 2009

Tentang Kebencian


Usah kau usir aku
Usah kau lari
Jangan kau benci
Jangan kau caci-maki

Biar saja aku yang pergi
Lupakan saja aku ini
Tak perlu kau cari
Apalagi mendekati

Bersekutulah dengan teman-teman kamu
Jika itu membuatmu akan hidup
Kejarlah dunia impianmu
Jemputlah bahagiamu

Kenapa harus ada cinta
Jika yang muncul adalah kebencian
Mengapa aku membenci
Karena aku mencinta

Tak seharusnya aku menyayangi
Sebab takut aku akan membenci
Mestinya aku tak mencintai

Kalau saja belum terjadi
Aku ingin kembali
Dan ingin aku katakan
Kamu tidak hadir untukku

Bukan aku tak mau kamu mengerti
Hanya aku tak mau kamu tahu
Tentang cintaku juga kebencianku
Juga gundahku akan kamu

Rabu, 16 Desember 2009

Memaknai Rutinitas Hidup

Judul buku : Memaknai Jejak-Jejak Kehidupan.

Penulis : Komaruddin Hidayat

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 223+vii hal

Tahun terbit : 2009

ISBN : 978-979-22-4388-8




Seiring dengan perjalanan waktu dan bersamaan gerak nafas, saat itu pula manusia dituntut untuk melakukan perubahan. Dan ketika perubahan itu terjadi maka dibutuhkan adaptasi, tentunya dengan melihat situasi dan kondisi. Terlebih manusia yang kita kenal adalah mahluk sosial, tentunya pembawaan perubahan itu tidak hanya dari diri pribadi belaka, melainkan juga secara social kolektif.

Sebagai manusia biasa, konon terkenal lupa dan berbuat salah. Bahkan kesalahan lama-kelamaan menjadi biasa, akhirnya kebiasaan berbuat salah menjadi kewajaran. Karena lupa, perbuatan dosa dianggap tidak berdosa, mengingat ada ampunan dari yang kuasa.

Setiap hari tuhan memberikan kesempatan selama 24 jam kepada mahluk-Nya untuk mengisi hidunpnya sebaik-baiknya. Tentunya sudah banyak aktifitas yang telah dilakukan, mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali. Dari banyak kegiatan itu tidak sedikit yang jika kita ingat-ingat kembali ternyata membuat jantung kita terpingkal-pingkal, ada juga yang membuat jantung kita berdebar-debar.

Berangkat dari secarik gagasan dalam tiap kegiatan itu, komaruddin hidayat mencatatkan kebiasaan remeh kemanuisaan itu diubah menjadi tulisan yang penuh inspiratif. Mengingat tindakan manusia terkadang lupa-lupa ingat, atau ingat-ingat lupa. Jika ditimbang antara lupa dan ingat, lebih baik banyak lupa, karena tulisan mencoba mengabadikan sketsa kehidupan itu.

Karena itu meski hidup terasa biasa-biasa saja, bahkan kadang tidak mempunyai arit, tetapi dimata seorang akademisi sekecil apa pun kehidupan, tetap bermakna selama bisa menggali nilai kritik sosialnya.

Buku karang komarudin hidayat ini, hanyalah catatan kecil yang merujuk pada fenomena-fenomena sehari-hari kehidupan masyarakat Indonesia. Mulai dari hal-hal yang terkecil sampai diskusi-diskusi di seminar, banyak ia catatkan. Di tangannya coretan itu menjadi sebuah tulisan inspiratif yang layak kita renungi untuk cerminan melangkahi kehidupan selanjutnya.

Rektor UIN Syarif Hidayatullah ini mengingatkan masyarakat Indonesia sebagai kaum pelupa agar senantiasa mengevaluasi diri. Tujuannya tak lain supaya hidup ini menjadi lebih bermakna. Karena semua yang kita maknai belum tentu berarti, dan semua yang berarti bisa jadi kurang bermakna. Mengingat manusia selain dibekali otak, juga ada hati.

Setidaknya dari catatan-catatan kecilnya, mengajak kita semua untuk merenungi perbuatan-perbuatan yang telah dilakukan dengan berbagi kebiasaan, dari keunikan tindakan dan ucapan, kemudian dijadikan bahan evalusi diri. Waktu yang sudah disediakan ini tak lain adalah sebuah pembelajaran evaluasi untuk terus melakukan perbaikam-perbaikan kualitas hidup manusia.

Sekecil apapun peran kita terhadap masyarakat akan tetap berarti selama kita memberikannya dengan ketulusan untuk kehidupan yang lebih bijak dalam kebersamaan.

Cermin Masyarakat

Ternyata wajah masyarakat Indonesia jika digambarkan dalam tulisan menjadi sebuah kisah unik, mengelitik, dan serat dengan nilai-nilai keagamaan bercampur sedikit dengan bau-bau busuk. Lihat saja, bagaimana komarudin mengkisahkan sang pejabat berikut dengan rumah-rumahnya. Dalam buku ini, dituliskan setiap pejabat bisa dipastikan mempunyai rumah lebih dari satu, mulai dari rumah pribadi, rumah dinas dan rumah tahanan.

Para pejabat yang konon bermartabat dan terhormat, kenyataannya mereka yang duduk dikursi pemerintahan masih menyimpan nafsu hewaniyah ini yang disebut dalam bahasa komarudin sebagai titik terendah martabat manusia, bahkan derajat socialnya sama dengan hewan(animal sosial). Dalam keadaan ini manusia-manusia itu hanyalah mengejar kenikmatan sesaat, sulit diajak untuk berpikir jangka panjang dalam menciptakan generasi yang sehat dan berkualitas.

Dampaknya kualitas hidup masyarakat Indonesia kian tergadaikan sejalan dengan lunturnya nilai-nilai moral dan agama. Rasa toleransi yang sudah lama dibangun kadang tak dapat membawa kesepahaman, masyaraat sudah terkotak-kotak oleh kepentingan dan waktu.

Hanya keterbukaan hati yang barangkali bisa menawarkan kesejukan baru demi tercipta masyarakat yang harmonis dan toleran. Begitu juga dengan nilai-nilai agama yang sudah tertanam, mestinya bisa mewarnai disegala lini kehidupan.

Buku ini sangat dianjurkan bagi calon eksekutif, juga para pemangku jabatan negara. Mengingat kritikan halus dalam goresan tangan sang komar, memberi inspirasi dan mengajak kepada segenap elemen bangsa agar senantiasa berjalan sesuai dengan relnya. Kisah-kisah yang disuguhkan komar memang memberi cahaya baru yang halus dan menyetuh.

Rangkaian kalimat yang disusun sangat menggoda untuk dibaca bagi semua golongan, entah akademisi, politisi, birokratis bahkan sampai priyayi pun layak membaca buku ini. Sebagai bekal untuk mencapai hidup yang lebih bermakna.

Selanjutnya cita-cita bangsa untuk mewujudkan kehidupan yang berkualitas bukan sekadar basa-basi politis, melainkan gerakan bersama guna menjunjung nilai luhur dan martabat bangsa, kelak harga diri Negara kian diperhitungkan dikancah dunia, semua itu berawal dari tata hidup yang berkualitas.



*) di muat di tabloid Amanat edisi 113.


Sumber Daya Alam Brebes Selatan

Bumiayu merupakan salah satu kecamatan di kabupaten Brebes bagian selatan, banyak potensi yang belum dikembangakan didaerah itu, akan tetapi karena lokasi yang jauh dari ibu kota kabupaten menjadikan daerah ini kurang diperhatikan. Mestinya pemerintah berkewajiban dalam pemerataan pembanguanan di seluruh pelosok daerah tanpa terkecuali.
Dalam tata letak pembangunan kota, Bumiayu masuk dalam Sub Wilayah Pembangunan (SWP) III yang meliputi, Bumiayu, Tonjong, Paguyangan, Sirampog, Batarkawung dan Salem. SWP III ini di desain sebagai daerah pengambangan di sektor pertanian. Lihat saja di sepanjang jalan Bumiayu-Tonjong terbentang hutan pinus dan jati, dan di sekelilingnya kita bisa melihat tanaman padi yang membentang di sepanjang jalan tersebut, juga tanaman-tanaman lain yang dihasilkan dari SWP III, misalnya kubis, singong, wortel dan tomat.
Mengingat letak geografis Brebes bagian selatan(Bumiayu dan sekitarnya) yang berada di lereng gunung Slamet, selain tanahnya subur diam-diam daerah ini potensi Sumber Daya Alam(SDA) yang cukup melimpah. SDA inilah yang selama ini belum tergarap maksimal, padahal jika pemerintah mau serius SDA ini, Pemerintah Kabupaten(Pemkab) Brebes ini bisa mendapatkan keutungan yang tidak sedikit, bahkan bisa digunakan untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Potensi
Begitu juga masyarakat sekitar potensi alam ini bermanfaat meningkatkan kesejahteraan, setidaknya SDA itu memberi nilai tambah untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
Pada tahun 2005 Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Brebes bekerjasama dengan Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat Institut Teknologi Bandung(LPPM-ITB) pernah mengadakan penelitian terkait kondisi SDA yang terkandung di daerah SWP III ini, dan hasilnya di daerah ini terkandung banyak potensi SDA, mulai dari batu bara, batu apung, tanah liat, dan basir dan batu(Sirtu), bahkan minyak bumi sempat terdekteksi meskipun hasilnya dibawah standar.
SDA itu sangat bermanfaat terutama sebagai campuran bahan bangunan. Misalnya batu apung yang terdapat di Desa Mendala dan Desa Cilibur, Kecamatan Sirampog, selama ini masyarakat sekitar memanfaatkan batu Apung ini sebagai bahan campuran pengganti pasir untuk bangunan rumah. Kegunaan lain, batu ini dapat dipergunakan untuk campuran bahan baku semen, bahan beton ringan, bata tahan api, industri keramik, dan bahan pencuci kain.
Potensi lain terdapat di sepanjang sungai pemali yang melintasi kecamatan Tonjong dan Bantarkawung terdapat pasir dan batu cukup banyak, yang bisa digunakan sebagai bahan bangunan. Selain itu, terdapat batu belah yang bisa ditemukan di lereng gunung menyebar disekitar Kecamatan Salem, Bantarkawung, Bumiayu, Tonjong, Sirampog, dan Paguyangan. Pada umumnya batu belah itu dimanfaatkan untuk pembuatan batu split, sebagai bahan cor, bahan fondasi rumah atau jalan
Untuk mencipatakan pembangunan daerah yang merata, kiranya pemerintah mesti memahami keadaan lingkungan dan potensi-potensi yang terkandung. Banyak daerah yang mengeklporasi SDA tanpa melihat dampaknya, alhasil lingkungan itu menjadi tidak produktif bahkan menjadi daerah yang gersang dan tandus. Maka inilah yang perlu pikirkan pemerintah, setidaknya harus ada langkah-langkah pencegahan sebelum terjadi kerusakan lingkungan. Jangan sampai pasca pendayagunaan SDA ini justru lingkungan menjadi rusak, nantinya akan menjadi bencana yang mengancam warga sekitarnya.
Karena itu yang perlu diberdayakan tidak hanya SDA-nya, tapi juga warga SDM masyarakat di sekitarnya. Setidaknya warga diajak berpikir bersama untuk mengelola SDA yang ada di dekatnya, sehingga masyarakat merasa memliki rasa tanggungjawab untuk mengembangkannya. Dan masyaraat secara langsung akan merasaan keuntungan yang di dapat dari SDA ini.
Disini ada beberapa catatan terkait langkah-langkah untuk pemberdayaan SDA dengan memperdulikan lingkungan. Pertama: pemerintah bersama masyarakat menjaga kelesatarian lingkungan, pendayagunaan SDA sebisa mungkin untuk meminimalisir kerusakan lingkungan.
Menjaga Lingkungan
Kedua: pendidikan tentang lingkungan kepada masyarakat, ini penting mengingat untuk melestarikan lingkungan perlu pengetahuan cara-cara untuk menjaga lingkungan yang baik dan benar. Berikut dengan upaya pembelejaran pencegahan berncana alam yang diakibatkan eksplorasi yang berlebihan.
Ketiga: pemberdayaan nilai-nilai kewirausahaan masyarakat hasil dari pengelolaan SDA, hal ini terkait pemasaran hasil-hasil yang diperoleh dari SDA. Diharapkan dengan pemberdayaan ini masyarakat bisa mandiri memasarkan hasil pengelolaannya dan bisa memberikan nilai tambah bagi ekonomi keluarga.
Kelima: regulasi pemerintah, pada kondisi ini jauh lebih penting dimana posisi pemerintah yang mempuynai kekuatan penuh untuk megatur atau menerbitkan peraturan tentang pengelolaan SDA dan hasilnya. Tujuannya untuk mengantisipasi ekspolarasi sda yang tidak terkontrol, dan cenderung merusak lingkungan.
Harapan besar dengan pengelolaan SDA ini bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat disekitarnya, juga turut menambah Pendapatan Asli Daerah(PAD). Tentunya dengan memperhatikan dan menjaga lingkungan di sekitar lokasi penambangan.

**) Di muat di harian Suara Merdeka edisi 3 Juli 2009