Judul buku : Memaknai Jejak-Jejak Kehidupan.Penulis : Komaruddin Hidayat
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 223+vii hal
Tahun terbit : 2009
ISBN : 978-979-22-4388-8
Seiring dengan perjalanan waktu dan bersamaan gerak nafas, saat itu pula manusia dituntut untuk melakukan perubahan. Dan ketika perubahan itu terjadi maka dibutuhkan adaptasi, tentunya dengan melihat situasi dan kondisi. Terlebih manusia yang kita kenal adalah mahluk sosial, tentunya pembawaan perubahan itu tidak hanya dari diri pribadi belaka, melainkan juga secara social kolektif.
Sebagai manusia biasa, konon terkenal lupa dan berbuat salah. Bahkan kesalahan lama-kelamaan menjadi biasa, akhirnya kebiasaan berbuat salah menjadi kewajaran. Karena lupa, perbuatan dosa dianggap tidak berdosa, mengingat ada ampunan dari yang kuasa.
Setiap hari tuhan memberikan kesempatan selama 24 jam kepada mahluk-Nya untuk mengisi hidunpnya sebaik-baiknya. Tentunya sudah banyak aktifitas yang telah dilakukan, mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali. Dari banyak kegiatan itu tidak sedikit yang jika kita ingat-ingat kembali ternyata membuat jantung kita terpingkal-pingkal, ada juga yang membuat jantung kita berdebar-debar.
Berangkat dari secarik gagasan dalam tiap kegiatan itu, komaruddin hidayat mencatatkan kebiasaan remeh kemanuisaan itu diubah menjadi tulisan yang penuh inspiratif. Mengingat tindakan manusia terkadang lupa-lupa ingat, atau ingat-ingat lupa. Jika ditimbang antara lupa dan ingat, lebih baik banyak lupa, karena tulisan mencoba mengabadikan sketsa kehidupan itu.
Karena itu meski hidup terasa biasa-biasa saja, bahkan kadang tidak mempunyai arit, tetapi dimata seorang akademisi sekecil apa pun kehidupan, tetap bermakna selama bisa menggali nilai kritik sosialnya.
Buku karang komarudin hidayat ini, hanyalah catatan kecil yang merujuk pada fenomena-fenomena sehari-hari kehidupan masyarakat Indonesia. Mulai dari hal-hal yang terkecil sampai diskusi-diskusi di seminar, banyak ia catatkan. Di tangannya coretan itu menjadi sebuah tulisan inspiratif yang layak kita renungi untuk cerminan melangkahi kehidupan selanjutnya.
Rektor UIN Syarif Hidayatullah ini mengingatkan masyarakat Indonesia sebagai kaum pelupa agar senantiasa mengevaluasi diri. Tujuannya tak lain supaya hidup ini menjadi lebih bermakna. Karena semua yang kita maknai belum tentu berarti, dan semua yang berarti bisa jadi kurang bermakna. Mengingat manusia selain dibekali otak, juga ada hati.
Setidaknya dari catatan-catatan kecilnya, mengajak kita semua untuk merenungi perbuatan-perbuatan yang telah dilakukan dengan berbagi kebiasaan, dari keunikan tindakan dan ucapan, kemudian dijadikan bahan evalusi diri. Waktu yang sudah disediakan ini tak lain adalah sebuah pembelajaran evaluasi untuk terus melakukan perbaikam-perbaikan kualitas hidup manusia.
Sekecil apapun peran kita terhadap masyarakat akan tetap berarti selama kita memberikannya dengan ketulusan untuk kehidupan yang lebih bijak dalam kebersamaan.
Cermin Masyarakat
Ternyata wajah masyarakat Indonesia jika digambarkan dalam tulisan menjadi sebuah kisah unik, mengelitik, dan serat dengan nilai-nilai keagamaan bercampur sedikit dengan bau-bau busuk. Lihat saja, bagaimana komarudin mengkisahkan sang pejabat berikut dengan rumah-rumahnya. Dalam buku ini, dituliskan setiap pejabat bisa dipastikan mempunyai rumah lebih dari satu, mulai dari rumah pribadi, rumah dinas dan rumah tahanan.
Para pejabat yang konon bermartabat dan terhormat, kenyataannya mereka yang duduk dikursi pemerintahan masih menyimpan nafsu hewaniyah ini yang disebut dalam bahasa komarudin sebagai titik terendah martabat manusia, bahkan derajat socialnya sama dengan hewan(animal sosial). Dalam keadaan ini manusia-manusia itu hanyalah mengejar kenikmatan sesaat, sulit diajak untuk berpikir jangka panjang dalam menciptakan generasi yang sehat dan berkualitas.
Dampaknya kualitas hidup masyarakat Indonesia kian tergadaikan sejalan dengan lunturnya nilai-nilai moral dan agama. Rasa toleransi yang sudah lama dibangun kadang tak dapat membawa kesepahaman, masyaraat sudah terkotak-kotak oleh kepentingan dan waktu.
Hanya keterbukaan hati yang barangkali bisa menawarkan kesejukan baru demi tercipta masyarakat yang harmonis dan toleran. Begitu juga dengan nilai-nilai agama yang sudah tertanam, mestinya bisa mewarnai disegala lini kehidupan.
Buku ini sangat dianjurkan bagi calon eksekutif, juga para pemangku jabatan negara. Mengingat kritikan halus dalam goresan tangan sang komar, memberi inspirasi dan mengajak kepada segenap elemen bangsa agar senantiasa berjalan sesuai dengan relnya. Kisah-kisah yang disuguhkan komar memang memberi cahaya baru yang halus dan menyetuh.
Rangkaian kalimat yang disusun sangat menggoda untuk dibaca bagi semua golongan, entah akademisi, politisi, birokratis bahkan sampai priyayi pun layak membaca buku ini. Sebagai bekal untuk mencapai hidup yang lebih bermakna.
Selanjutnya cita-cita bangsa untuk mewujudkan kehidupan yang berkualitas bukan sekadar basa-basi politis, melainkan gerakan bersama guna menjunjung nilai luhur dan martabat bangsa, kelak harga diri Negara kian diperhitungkan dikancah dunia, semua itu berawal dari tata hidup yang berkualitas.
*) di muat di tabloid Amanat edisi 113.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar