Minggu, 23 Oktober 2011

Mengenal Kupu-Kupu dari Maros

Sebagai hewan yang tergolong dalam avertebrata, kupu-kupu mempunyai keindahan tersendiri. Tidak salah, jika keberadaanya sealu menarik perhatian umum. Termasuk saat pameran Potensi Nusantara Expo yang digelar di Ambarukmo Plaza selama Kamis-Sabtu (6-9/10).

Ketika itu, stand dari Kabupaten Maros Sulawesi Selatan ramai dikerubuti pengunjung mall. Usut punya usut ternyata mereka sedang mengamati beberapa kupu-kupu yang terpajang di stan tersebut. “Ini sebagai souvenir khas dari daerah kami,” kata salah satu peserta dari Kabupaten Maros, Irwan.

Hewan tersebut sengaja di pajang untuk menarik perhatian pengunjung, mengingat bentuknya yang indah, termasuk kombinasi warnanya. Tidak salah, jika kupu-kupu ini menjadi cirri khas kedaerahan asli Maros.

Lebih lanjut irwan menambahkan, di tempatnya, terdapat ribuan kupu-kupu dengan aneka species. Namun, Kupu-kupu spesies khas Maros itu diantaranya yang termasuk dalam family papilionidae. jenis ini hidup bisaanya di kawasan taman wisata alam Bantimurung. Juga jenis atacus atlas yang selama ini berkembang biak di desa Laiya Kecamatan Cendrana, Maros.

Bahkan jika mengunjungi kawasan Taman Wisata Alam Bantimurung, Maros, bakal dijujmpai banyak kupu-kupu awetan yang dijajakan di depan gerbang masuk. Kupu-kupu itu menjadi salah satu cirri Bantimurung.

Selain kupu-kupu, timnya juga membawa beberapa makanan dan souvenir lain khas daerahnya. Seperti makanan baje malawa, baje banding, dan putu kacang. Sedangkan hasil kerajinan tangan cirri khasnya yaitu dompet yang terbuat dari sutera. Tidak ketinggalan pula, hasil pertanian di daerahnya, mulai dari kacang tanah, dan kakau.

Untuk lebih mengenalkan kebudayaan asli daerahnya, peserta yang ikut rombongannya harus memakai pakai adat maros, yaitu berupa jas tutup (cowok) dan baju bodo (cewek). “Melalui even ini kami ingin memasyarakatkan pakain khas daerah, karena itu selama pameran diwajibkan mengenakan pakaian adat” terangnya.

Baginya, kegiatan semacam ini sangat bermanfaat, terutama bagi daerah-daerah yang kurang terpencil. Bahkan dari pelaksanaan ini, dirinya bisa saling memperkenalkan kebudayaan daerahnya masing-masing. Sehingga satu per satu potensi daerah muncul ke permukaan.

Lebih lanjut, Irwan menambahkan selama ini potensi daerah yang mestinya bias memberikan nilai ekonomi kurang tergarap maksimal. Padahal, jika dikelola dengan baik bias menjadi salah satu pemasukan daerahnya.


Tidak ada komentar: