Ketika itu, beberapa “bomber” berkumpul di di parkiran McDonal kawasan Jalan Jendral Sudirman. Mereka sibuk dengan becak-becak dan walpaint dengan segenggam pilox yang menyemprotkan warna-warni, khas guratan graffiti. Mereka tidak sekedang mengebom, melainkan juga mengungkapkan harapan di hari yang istimewa ini. Tentunya dalam bentuk lukisan dan gambar-gambar.
Kegiatan ini tak lain untuk menyambut HUT Kota Jogjakarta yang ke – 225. Dengan difasilitasi Aerosoul Indonesia sebagai panitia pelaksana, acara yang bertajuk Competition Grafiti Pimpin Becak, sebanyak 50 becak yang biasa mangkal di beberapa titik kota gudeg ikut dirias. “Kami ingin merayakan HUT Jogja dengan cara yang berbeda,” kata Marketing Communication Aerosoul Indonesia, Weny Kohongia.
Baginya, seniman mural merupakan salah satu ajang untuk mengekspresi keinginan. Karena itu, di hari yang bersejarah ini, mereka bisa mengungkapkan harapan untuk kota gudeg ini melalui grafiti ini. Dan bentuk suara mereka melalui seni.
Akan tetapi panitia tidak membatasi karya para seniman ini hanya dengan HUT Jogja, mereka dibebaskan untuk melukis sesuai dengan suasana hati mereka sendiri. “Cuma kebetulan berbarengan dengan pelaksanaan HUT, jadi mereka juga bisa mengaspirasikan suara tukang becaknya,” jelasnya.
Lebih lanjut, Weny menjelaskan untuk merayakan ultah tidak perlu dengan biaya yang mahal, apalagi dengan kegiatan yang mewah. Dan cara seperti inilah yang dilakukan oleh seniman, minimal mereka bisa bersuara di hari yang istimewa.
Pihak panitia pun merasa puas dengan pelaksanaan ini, buktinya mereka sangat antusias dalam melukis di puluhan becak dan papan dinding. Harapan besar dengan acara ini, apresaiasi seniman jalanan ini dapat terakomodasi. Setidaknya, sebagai ajang untuk mengaktualisasikan karyanya.
Selam ini, seniman grafiti selalu mencari peluang untuk melukiskan karyanya di dinding-dinding dijalanan. Mereka menggambar dengan hati nurani, tidak salah jika karyanya bisa menyuarakan aspirasi golongan tertentu.
Untuk memberi motivasi, pihak panitia sudah menyediakan beberapa hadiah. Dengan harapan para pelaku seni ini bisa terus mengembangkan bakatnya, terutama untuk menghasilkan karya yang bernilai seni tinggi.
Bahkan kalau bisa, dengan bakat yang dimiliki bisa menghasilkan nilai ekonomi bagi mereka sendiri. Sehingga karyanya mereka tidak hanya benda yang kaya art, tapi juga bisa untuk memenuhi kebutuhan mereka. “Mereka punya bakat yang bisa dikembangkan agar bernilai ekonomi,” terang Weny.
Baginya, kesuksesan ini membawa aroma positif bagi perkembangan seni mural di kota gudeg ini. Tidak tertutup kemungkinan acara yang sama juga bakal digelar di tahun kemudian. Sehingga nuansa berkesenian tetap menyala dan bias menghidupi dunia pariwisata.
Dan yang lebih penting lagi, keberadaan seniman jalanan ini bias mendapatkan ruang untuk mengaktualisasikan gagasan dan kreatifitasnya. “Karena bagaimana pun mereka juga bagian dari berkesenian yang patut diapresiasi,” imbuh Weny. (Seh)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar